BANYUWANGI // Lensapubliknews.com – Suasana penuh khidmat menyelimuti Masjid Batal Atiq, Dusun Pancoran, Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, Sabtu (29/08/2026). Ratusan jamaah berkumpul dalam pengajian umum dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus haul majemuk.
Hadir dalam kegiatan tersebut Habib Husein bin Abdul Qadir Jailani Al Muhdar, para ustaz dan ustazah, tokoh masyarakat, serta jamaah dari berbagai kalangan.
Dalam tausiyahnya, Habib Husein mengajak jamaah untuk senantiasa menghidupkan sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu amalan yang disampaikan adalah penggunaan siwak, terutama sebelum melaksanakan salat.
Siwak merupakan salah satu sunnah Rasulullah SAW yang memiliki banyak keutamaan. Selain sebagai bentuk mengikuti sunnah Nabi, siwak juga mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan mulut.
Habib Husein juga menyampaikan kisah Nabi Adam AS dan Siti Hawa sebagai pelajaran bagi umat manusia tentang godaan, ketaatan dan pentingnya menjaga diri dari bujuk rayu yang dapat menjerumuskan manusia kepada perbuatan yang tidak diridai Allah SWT.
Namun, salah satu pesan utama dalam tausiyah tersebut adalah tentang akhlak mulia, kesabaran dan ketabahan Rasulullah SAW dalam menjalankan dakwah Islam.
Habib Husein mengingatkan jamaah bahwa perjalanan dakwah Rasulullah SAW tidaklah mudah. Nabi Muhammad SAW menghadapi berbagai bentuk penolakan, hinaan, ancaman hingga perlakuan yang menyakitkan. Meski demikian, Rasulullah SAW tetap memilih jalan kesabaran dan tidak membalas keburukan dengan keburukan.
Dengan akhlaknya yang mulia, Rasulullah SAW justru menunjukkan kasih sayang kepada orang-orang yang memusuhinya. Ketika mendapat perlakuan buruk, beliau tetap mendoakan kebaikan dan terus menyampaikan ajaran Islam dengan penuh kelembutan.
Kesabaran Rasulullah SAW menjadi bukti bahwa dakwah tidak hanya dilakukan dengan kata-kata, tetapi juga melalui keteladanan akhlak. Kejujuran, amanah, kasih sayang, rendah hati dan keteguhan hati beliau menjadi contoh yang sangat berharga bagi seluruh umat Islam.
Pesan tersebut dinilai sangat relevan dalam kehidupan masyarakat saat ini. Jamaah diajak untuk tidak mudah marah, tidak membalas keburukan dengan keburukan, serta tetap menjaga tutur kata dan perilaku ketika menghadapi perbedaan maupun persoalan dalam kehidupan sehari-hari.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan haul majemuk di Masjid Batal Atiq tersebut pun menjadi momentum untuk kembali mengingat perjuangan Rasulullah SAW sekaligus menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
Melalui peringatan tersebut, jamaah diharapkan tidak hanya mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga mampu mengamalkan sunnah dan meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari, sehingga nilai-nilai Islam dapat terus tumbuh dalam keluarga dan lingkungan masyarakat.
Marmoto
