BANYUWANGI // lensapubliknews.com — Bulan Sya’ban menjadi fase penting bagi umat Islam untuk melakukan introspeksi diri dan persiapan spiritual sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Hal tersebut disampaikan oleh Habib Qushoy Bin Abdullah Assegaf, ulama kharismatik asal Probolinggo, dalam pengajian rutin Minggu pertama yang digelar di Masjid Jihadul Masyhuri lingkungan Wangkal Kalipuro, Kecamatan Kalipuro, pada Minggu (4/1/2026) dan dihadiri ratusan jamaah dari berbagai daerah.
Dalam tausiyahnya, Habib Qushoy menegaskan bahwa bulan Sya’ban sering kali dilalaikan, padahal memiliki keutamaan besar dalam perjalanan ibadah bagi seorang Muslim. Ia mengingatkan bahwa Sya’ban adalah bulan di mana amal perbuatan manusia diangkat kepada Allah SWT.
“Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal-amal manusia kepada Allah. Maka alangkah indahnya jika amal kita diangkat dalam keadaan baik, bersih, dan penuh keikhlasan,” tutur Habib Qushoy di hadapan ratusan jamaah.
Habib Qushoy juga mencontohkan bagaimana Rasulullah SAW memperbanyak ibadah, khususnya puasa sunnah, pada bulan Sya’ban. Menurutnya, teladan tersebut menunjukkan pentingnya persiapan lahir dan batin agar umat Islam dapat memasuki Ramadan dengan kesiapan iman yang kuat.
“Rasulullah SAW tidak menunggu Ramadan untuk beribadah. Beliau memulai persiapan jauh-jauh hari di bulan Sya’ban,” jelasnya.
Selain puasa sunnah, Habib Qushoy mengajak umat Islam untuk memperbanyak istighfar, shalawat, serta memperbaiki hubungan antar sesama. Ia menekankan bahwa ibadah tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan akhlak.
“Sebelum Ramadan datang, bersihkan dulu hati kita. Maafkan sesama, perbaiki hubungan, dan perbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW,” ujarnya.
Mengenai malam Nisfu Sya’ban, Habib Qushoy mengingatkan agar umat Islam tidak sekadar memaknainya sebagai ritual tahunan. Ia mengajak jamaah untuk menjadikan malam tersebut sebagai momen doa, muhasabah, dan pendekatan diri kepada Allah SWT dengan penuh keikhlasan.
“Malam Nisfu Sya’ban adalah waktu yang tepat untuk bercermin pada diri sendiri, memohon ampunan, dan memperbaiki niat,” katanya.
Menutup tausiyahnya, Habib Qushoy berharap bulan Sya’ban tidak berlalu tanpa makna. Ia menegaskan bahwa memuliakan bulan Sya’ban adalah bagian dari memuliakan Ramadan.
“Jika Ramadan adalah bulan cahaya, maka Sya’ban adalah pintunya. Siapa yang memuliakan Sya’ban, insyaAllah akan dimuliakan di bulan Ramadan,” pungkasnya.
( Taufik )
