PASURUAN // lensapubliknews.com – Pelaksanaan program gizi negara di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kejayan, Kabupaten Pasuruan, menjadi sorotan tajam. Program yang seharusnya meningkatkan kualitas kesehatan anak sekolah tersebut justru ditemukan menyajikan nasi basi kepada para siswa, yang memicu kemarahan orang tua dan aktivis swadaya masyarakat.
Dugaan kelalaian ini mencuat setelah sejumlah siswa melaporkan kondisi makanan yang mereka terima. Salah satu orang tua siswa yang juga merupakan Ketua Umum Aliansi Cinta Damai, Hannan, menyatakan kegeramannya setelah mendapati anaknya sendiri yang duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) menerima jatah makanan dalam kondisi tidak layak.
“Ini program negara yang sangat bagus, tapi dirusak oleh kelalaian oknum-oknum yang bekerja tidak dengan hati. Kalau hanya nasi basi, kami tidak butuh karena kami masih mampu memberi makan anak kami sendiri. Ini tampak seperti ada unsur kesengajaan atau keteledoran yang luar biasa,” ujar Hannan saat memberikan keterangan kepada media.
Insiden ini memancing reaksi keras dari elemen masyarakat lainnya. Gus Ujay, Ketua Umum LSM P-MDM, menyatakan sikap akan mengawal kasus ini dan mendukung penuh langkah Aliansi Cinta Damai dalam menuntut pertanggungjawaban pihak pengelola SPPG Kejayan.
“Kami akan mendukung gerakan Aliansi Cinta Damai. Jika masalah ini dibiarkan tanpa evaluasi total, keteledoran serupa akan terus berulang dan membahayakan kesehatan anak-anak kita,” tegas Gus Ujay.
Pihak orang tua dan aktivis berharap laporan ini segera didengar oleh pemerintah pusat agar diambil tindakan tegas terhadap oknum yang bertanggung jawab di lapangan. Mereka menekankan bahwa profesionalisme dalam program negara yang menggunakan anggaran rakyat adalah harga mati.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola SPPG Kejayan belum memberikan pernyataan resmi terkait penyebab terjadinya distribusi makanan basi tersebut. Masyarakat mendesak adanya investigasi menyeluruh terhadap rantai pasok dan prosedur pengawasan mutu (quality control) di lembaga tersebut.
Ipul jatim
