BANYUWANGI // Lensapubliknews.com – Dugaan penyajian makanan tak layak konsumsi mencuat di SPPG wilayah Boyolangu, Kecamatan Giri, Kabupaten Banyuwangi. Temuan tersebut diungkap langsung oleh seorang guru di Sekolah Luar Biasa Negeri Banyuwangi yang memeriksa dan mencicipi makanan sebelum dibagikan kepada para muridnya. Jumat (27/02/2026)
Guru tersebut menyampaikan bahwa sebagai bentuk tanggung jawab terhadap anak-anak berkebutuhan khusus, dirinya selalu melakukan pengecekan terlebih dahulu terhadap Makanan Program Gizi (MPG) sebelum dikonsumsi siswa.
“Ini sebelum diberikan kepada anak-anak, jadi saya cicipi dulu ya. Karena ini kan untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus. Jadi tidak semua anak-anak bisa makan seperti ini. Jadi memang gurunya dulu yang harus memastikan,” ujarnya.
Namun, saat dilakukan pengecekan, ia menemukan sejumlah makanan yang diduga sudah tidak layak konsumsi. Di antaranya kurma yang disebut sudah tengik, bahkan terdapat jamur berwarna putih pada sebagian buah tersebut.
“Kurmanya sudah tidak layak untuk dimakan. Karena ini sudah tengik dan tidak bisa dimakan. Ada juga yang berjamur warna putih,” jelasnya.
Tak hanya itu, ia juga menyoroti kemasan makanan yang dinilai kurang baik. Beberapa item seperti keripik tempe disebut sudah melempem dan berbau tengik. Abon yang menjadi salah satu lauk pun dinilai bermasalah.
“Ini keripik tempenya sudah melempem dan rasanya tengik juga. Kenapa banyak yang tengik ya ini? Ini yang parah, abon. Abonnya rasanya tengik, cuma terasa jahe saja, tidak ada rasa gurih. Ini tampak tidak layak untuk dimakan, apalagi untuk anak-anak,” tegasnya.
Untuk roti cokelat yang dibagikan, ia juga menemukan adanya kacang di dalamnya yang diduga sudah tengik. Dari seluruh menu yang diterima hari itu, menurutnya hanya pisang yang masih dalam kondisi baik dan layak konsumsi.
“Yang bisa terselamatkan hanyalah pisang. Pisangnya bagus. Tapi dari semua ini, yang bisa dimakan hanyalah pisang,” ungkapnya prihatin.
Temuan tersebut menimbulkan kekhawatiran serius, terlebih makanan tersebut diperuntukkan bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang secara kesehatan lebih rentan.
Keluhan serupa juga disampaikan oleh salah seorang wali murid. Ia mengaku anaknya sempat menerima susu kedelai dalam kondisi basi yang diketahui berasal dari SPPG Boyolangu.
“Saya tidak mau anak saya mengalami keracunan, Pak. Mereka enak dapat untung, kalau anak saya keracunan saya yang rugi,” ucapnya dengan nada kecewa.
Para orang tua berharap pihak terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengadaan, distribusi, hingga pengawasan kualitas makanan di SPPG Boyolangu. Mereka menilai, jika benar terjadi kelalaian, hal ini bukan hanya mencederai rasa kepercayaan masyarakat, tetapi juga dinilai mencoreng program pemerintah yang bertujuan meningkatkan gizi anak-anak.
Kasus ini pun menjadi perhatian publik karena menyangkut keselamatan dan kesehatan anak-anak, khususnya siswa berkebutuhan khusus. Masyarakat mendesak agar instansi berwenang segera turun tangan melakukan inspeksi dan memastikan standar kelayakan pangan benar-benar diterapkan secara ketat.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola SPPG Boyolangu terkait dugaan tersebut.
( MT )
