PASURUAN // lensapubliknews.com – Kekecewaan mendalam kembali menyelimuti pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kejayan. Setelah sebelumnya sempat disorot karena menyajikan makanan basi, kini layanan katering di SMA Kejayan kembali menuai protes keras setelah ditemukan ulat di dalam porsi makanan siswa.
Tokoh masyarakat, Gus Ujay, mengecam keras temuan ini. Ia menilai kejadian berulang ini menunjukkan adanya kelalaian serius dalam pengawasan kualitas makanan yang didistribusikan kepada para siswa.
“Sungguh miris. Beberapa hari kemarin menyajikan makanan basi, sekarang di dalam makanan justru ada ulatnya. Ini terjadi di SMA Kejayan dan sangat tidak bisa ditoleransi,” ujar Gus Ujay dengan nada geram saat memberikan keterangan kepada media, Jumat (17/4).
Gus Ujay menekankan bahwa program MBG merupakan program strategis negara yang bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, ketidaksigapan pengelola dalam menjaga kebersihan makanan telah mencederai tujuan mulia program tersebut.
“Program ini adalah program negara yang wajib kita jaga bersama agar memberikan nilai yang baik, bukan malah memberikan makanan yang tidak layak. Kami sebagai orang tua sangat menjaga kesterilan makanan untuk anak-anak di rumah. Sangat kontras ketika program yang seharusnya efektif ini justru menyajikan menu yang asal-asalan,” lanjutnya.
Tuntut Pertanggungjawaban Ahli Gizi
Menyikapi temuan ulat tersebut, Gus Ujay mendesak pihak terkait, khususnya penanggung jawab teknis dan ahli gizi di lingkungan MBG Kejayan, untuk melakukan evaluasi total. Ia menilai ada ketidakprofesionalan dalam menjalankan standar operasional prosedur (SOP) dapur.
“Jika kasus-kasus seperti ini terus berulang di MBG Kejayan, maka kami meminta Kepala Satuan Pelayanan (K.SPPG) atau ahli gizi untuk bertanggung jawab. Kinerja mereka sangat tidak profesional,” tegas Gus Ujay.
Belum Ada Konfirmasi Pihak Terkait, Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola dapur MBG Kejayan belum memberikan keterangan resmi terkait temuan ulat dalam makanan siswa tersebut. Upaya konfirmasi telah dilakukan, namun belum mendapatkan respons dari pihak manajemen dapur maupun otoritas sekolah terkait.
Masyarakat berharap pemerintah daerah dan dinas terkait segera turun tangan melakukan audit terhadap vendor atau pihak pengelola dapur di wilayah Kejayan agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa mendatang.
Ipul jatim
